Monday, 19 September 2016

Musang dan Rubah

Dan ketika seekor musang masuk diam-diam melalui pintu berwarna kuning, tiba-tiba semua hening.
Karena pemilik kedai itu tahu, seekor Rubah disitu sudah menunggu kunjungan Musang yang jarang.

“Kopi apa yang bisa aku makan malam ini?” tanya Musang yang pendiam

“Ada banyak kopi yang aku miliki, tapi sayang kopi kesukaanmu tidak sempat aku beli kemarin. Tanpa kopi itu biasanya kau akan langsung pergi?” jawab pemilik kedai yang seekor rusa gunung

“Ya, tapi berikan aku apa saja kali ini. Aku bisa makan yang lain” Musang memutuskan

Walau sudah lama menunggu-nunggu kunjungan Musang, Rubah itu terlalu pemalu. 
Melihat musang, bagi Rubah seperti melihat terang siang pertama kali yang menghipnotis karena menyilaukan.
Bahkan melihat musang dari belakang sudah membuatnya kegirangan bukan kepalang. 

Bumi rasanya cukup seluas kedai itu saja, dan alam liar tidak lagi begitu menarik.
Baginya saat ini, kicau burung tidak lebih merdu dari keheningan antara Rubah dan Musang. 

Rubah itu begitu menikmati kecanggungan jatuh cinta.
Yang membuat kakinya mati rasa tapi sekaligus ingin menari tango, chacha, tap atau waltz.

Kemudian setelah musang menyelesaikan makan malamnya, ia tersenyum dan berterimakasih
“sampai kapankah kamu disini?” Musang bertanya kepada Rubah
“tepat tengah malam” jawab rubah malu-malu dengan wajah memerah seperti buah apel
Kemudian Musang tersenyum mengangguk  dan berlalu.

Sayang, hidup Rubah bukan cerita Cinderella atau Musang yang jadi pangeran.
Tapi tak apa jugalah, bagi Rubah ceritanya lebih sempurna

Setelah pulang ke sarang, buru-buru Rubah bersyukur sampai matahari terbit. Kemudian segera ia terlelap.

Mimpi indah rubah...
Karena siang hari kau harus tidur,

Aku pun tahu, malammu tak kalah terang dari siang  

No comments:

Post a Comment